ASESMEN KINERJA
Asesmen
kinerja adalah penilaian terhadap proses perolehan pengetahuan dan keterampilan
melalui proses pembelajaran yang menunjukkan kemampuan siswa dalam proses dan
produk. Asesmen kinerja merupakan suatu prosedur yang menggunakan berbagai
bentuk tugas-tugas untuk memperoleh informasi tentang apa dan sejauh mana yang
telah dilakukan dalam suatu program. Pemantauan didasarkan pada kinerja (performance) yang ditunjukkan dalam
menyelesaikan suatu tugas atau permasalahan yang diberikan. Hasil yang
diperoleh merupakan suatu hasil dari unjuk kerja tersebut. Asesmen kinerja
terutama sangat sesuai dalam menilai keterampilan proses sains. Keterampilan
proses siswa yang dapat dinilai meliputi keterampilan proses intelektual
(seperti keterampilan observasi, berhipotesis, merupakan konsep, merencanakan
serta melakukan penelitian, dan lain-lain). Asesmen kinerja sangat tepat bila
digunakan dalam kegiatan praktikum biologi. Bentuk asesmen kinerja yaitu
kinerja klasik, asesmen kinerja kelompok, asesmen kinerja personal.
Asesmen
ini melibatkan aktifitas siswa yang membutuhkan unjuk keterampilan tentu dan
atau penciptaan hasil yang telah ditentukan. Karena itu, metodologi asesmen ini
memberi peluang kepada guru untuk menilai pencapaian berbagai hasil pendidikan
yang sebenarnya tidak dapat dijabarkan dalam tes tertulis. Melalui metodologi
ini, asesmen kinerja memungkinkan guru mengawasi siswa saat bekerja atau
melakukan tugas belajar, atau guru dapat menguji hasil-hasil yang dapat
dicapai, serta menilai (judge) tingkat penguasaan atau kecakapan yang dicapi
siswa.
Asesmen
kerja tidak hanya bergantung pada jawaban benar atau salah. Sebagaimana halnya
dengan asesmen bentuk essay, observasi yang dilakukan oleh guru dalam ragka
melakukan pertimbangan-pertimbangan subjektif berkenaan dengan level prestasi
yang dicapai siswa. Evaluasi ini didasarkan pada perbandingan kinerja siswa
dalam mencapai standar exselent (keunggulan, prestasi) yang telah dicapai
sebelumnya. Sebagai mana tes esay, pertimbangan guru digunakan sebagai dasar
penempatan kinerja siswa pada suatu kesatuan atau kontinum tingkatan-tingkatan
prestasi yang terentang mulai dari tingkatan yang sangat rendah sampai
tingkatan yang sangat tinggi.
Menurut
Hibbard, 1995 (dalam nur, 2001) tugas-tugas kinerja menghendaki :
1. Penerapan
konsep-konsep dan informasi penunjang penting lainya.
2. Budaya
kerja yang penting bagi studi atau kerja ilmiah.
3. Penampakan
ketidakbutaan ilmiah (literal sains).
Komponen
dari asesmen kinerja menurut Nur (2001) meliputi :
1. Tugas-tugas
yang menghendaki siswa menggunakan pengetahuan dan proses yang telah mereka
pelajari.
2. Daftar
cek yang mengidentifikasi elemen-elemen tindakan atau hasil yang diperiksa.
3. Seperangkat
deskripsi dari suatu proses dan atau suatu kontinum nilai kualitas (rubric)
yang digunakan sebagai dasar untuk meliputi keseluruhan kerja.
4. Contoh-contoh
dengan mutu yang sangat baik sebagai model bagi pekerjaan yang harus dilakukan.
Wawancara
dan komperensi memberikan peluang bagi guru dan siswa untuk bertemu bersama dan
diskusi. Pertemuan pribadi dengan guru itu dapat merupakan pengalaman yang
memiliki daya motivasi yang kuat untuk kebanyakan siswa. Hal ini juga dapat
memberikan informasi yang bermanfaat bagi guru untuk memperoleh informasi
tentang bagaimana siswa berfikir dan bagaimana perasaanya tentang pelajaran
tersebut.
Konferensi
adalah diskusi tidak formal yang melibatkan guru dengan seorang siswa. Untuk
melaksanakan wawancara dan konfirmasi sebaiknya mempersiapkan :
1. Siapkanlah
beberapa pertanyaan.
2. Tempatkan
siswa dalam keadaan santai.
3. Jelaskan
bahwa anda akan mencari hasil berfikir kreatif.
4. Buatlah
catatan.
5. Jadilah
pendengan yang baik.
Hal-hal
yang harus kita pahami tentang kinerja adalah kita mendesain dan mengembangkan
asesmen kinerja untuk digunakan kelak di kelas kita sendiri. Metodologi asesmen
kinerja suatu obat yang mujarab, bukan penyelamatan guru, dan juga bukan
merupakan suatu kunci untuk menilai kurikulum yang sebenarnya. Asesmen ini
semata-mata merupakan alat yang memberikan cara-cara yang efesien dan efektif
untuk menilai beberapa (bukan keseluruhan) hasil-hasil dari proses pendidikan yang dipandang berguna.
Beberapa
cara melakukan asesmen kinerja, dapat dikelompokkan menjadi :
1. Asesmen
kinerja klasikal digunakan untuk mengases kinerja siswa secara keseluruhan
dalam satu kelas keseluruhan.
2. Asesmen
kinerja kelompok untuk mengases kinerja siswa secara berkelompok.
3. Asesmen
kinerja individu untuk mengases kinerja siswa secara individu.
Pada
pelaksanaanya, guru dapat mengatur cara fleksibel kinerja-kinerja yang akan
diases dalam kurun waktu tertentu. Misalnya dalam waktu dua semester guru
merencanakan untuk mengases keterampilan setiap siswa dalam membuat larutan.
Guru merencanakan dalam dua semester tersebut empat kali kegiatan yang menuntut
siswa membuat larutan. Maka guru dapat membagi siswa kedalam empat kelompok
siswa yang akan di ases siswa kelompok
pertama akan diases pada pembuatan larutan pertama. Kelompok berikutnya diases
pada pembuatan larutan berikutnya. Sehingga semua siswa mendapat kesempatan
yang sama untuk dinilai keterampilanya dalam membuat larutan. Asesmen kinerja
yang digunakan oleh guru tersebut adalah asesmen kinerja individu.
Asesmen
kinerja bersifat lugas (fleksibilitas) dalam pengembangan bagian-bagiannya,
tetapi ada beberapa yang perlu diperhatikan yaitu ketikan meninjau
faktor-faktor konteks dalam rangka pengambilan keputasan tentang kapan
mengadopsi metoda-metoda asesmen kinerja. Pada dasarnya faktor-faktor utama
yang dipertimbangkan dalam proses seleksi asesmen sesuai dengan sasaran
prestasi untuk siswa dan juga dengan metodologi asesmen kinerja.
Dalam
klasifikasi kinerja, pemakai bebas memilih dari suatu rentang sasaran prestasi
yang mungkin, dan asesmen kinerja dapat difokuskan pada sasaran-sasaran khusus
dengan mengambil tiga keputusan desain: merumuskan kinerja yang dinilai,
mengidentifikasi siapa yang akan dinilai, dan menetapkan kriteria kinerja.
Selain
dari rubril, penilaian kinerja terdiri atas lainya yaitu task (tugas-tugas).
Task merupakan perangkat tugas yang menuntun siswa untuk menunjukkan suatu
performance (kinerja) tertentu.
Ada
7 kriteria untuk mengevaluasi apakah penilaian kinerja (performance assessment)
berkualitas atau tidak.
1. Generability
: Apakah kinerja siswa dalam melakukan tugas yang diberikan sudah memadai untuk
digeneralisasikan kepada tugas lain.
2. Authenticity
: Apakah tugas yang diberikan sudah serupa dengan apa yang sering dihadapi
dalam praktek kehidupan sehari-hari.
3. Multiple
foci : Apakah tugas yang diberikan kepada siswa sudah mengukur lebih dari satu
kemampuan yang diinginkan.
4. Teachability
: Tugas yang diberikan merupakan tugas yang hasilnya makin baik karena adanya
usaha mengajar guru di kelas.
5. Fairness
: Apakah tugas yang diberikan sudah adil untuk semua siswa.
6. Feasibilyty
: Apakah tugas yang diberikan relevan untuk dapat dilaksanakan ( factor biaya,
tempat, waktu atay alat).
7. Scorabilyty
: Apakah tugas yang diberikan discor dengan akurat dan reliable?
Penilaian
kinerja dapat menilai pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa. Penilaian
kinerja memungkinkan siswa menunjukkan apa yang mereka lakukan. Hal tersebut
didasarkan pada pertimbangan bahwa terdapat perbedaan antara “Mengetahui
bagaimana melakukan sesuatu” dengan mampu secara nyata melakukan hal tersebut:.
Seorang siswa yang mengetahui cara menggunakan mikroskop, belum tentu dapat
mengoprasikan mikroskop tersebut dengan baik. Tujuan sekolah pada hakekatnya
adalah membekali siswa dengan kemampuan nyata (the real world situation). Dengan demikian penilaian kinerja sangat
penting artinya untuk memantau ketercapaian tujuan tersebut.
Metode-metode
yang dapat digunakan untuk penilaian kinerja adalah :
1. Observasi
2. Portofolio
3. Penilaian
essay
4. Ujian
praktek (practical examinatian)
5. Intervie
6. Paper
7. Penilaian
proyek
8. Kuesioner
9. Daftar
cek (checklist)
10. Penilaian
oleh teman (peer reating)
11. Penilaian
diskusi
12. Penilaian
jurnal kerja ilmiah siswa
Langkah-langkah utama yang perlu
ditempuh ketika menyusun penilaian kinerja yaitu :
1. Menentukan
indikator kinerja yang akan dicapai siswa.
2. Memilih
focus asesmen (menilai proses atau prosedur, produk, atau keduanya).
3. Memilih
tingkatan realism yang sesuai (menentukan beberapa besar tingkat keterkaitanya
dengan pada pembelajaran).
4. Memilih
metode observasi, pencatatan dan penskoran.
5. Mengujicoba
task dan rubik pada pembelajaran.
6. Memperbaiki
teks dan rubik berdasarkan uji coba untuk digunakan pada pembelajaran
berikutnya.
Berikut
ini adalah contoh asesmen kinerja dalam menggunakan rubik untuk pencapaian
kompetensi criteria pembelajaran sekor.
|
Kriteria
Pemberian Sekor
Dimensi yang dinilai : pencapaian
kompetensi atau tujuan pembelajaran IPA
Tingkat
pencapaian (sekor)
Iatimewa (4) : Tujuan atau kompetensi
dapat dicapai sepenuhnya dan pertumbuhan siswa sangat terarah kepada
pencapaian tujuan.
Baik (3) : Sebagaian besar tujuan atau
kompetensi dikuasai dengan baik dan pertumbuhan siswa terarah pada pencapaian
tujuan.
Cukup (2) : Hanya sebagaian kecil saja
kompetensi yang dapat dicapai siswa dan pertumbuhan siswa-siswa kurang
terarah pada pencapaian kompetensi tersebut.
Kurang (1) : Tidak terdapat adanya
tanda-tanda pencapaian tujuan atau kompetensi yang diharapkan.
|
SUMBER
:
Bahan
belajar mandiri Pendidikab IPA di SD edisi ke Satu
No comments:
Post a Comment